Liputan6com, Bandung - Kemandirian dan kemerdekaan dirasakan pula oleh pengembang aplikasi dan gim asal Cimahi, Jawa Barat ini yakni The Wali Studio. Terutama kemerdekaan finansial dan waktu, setelah sebelumnya sempat menjadi karyawan perusahaan teknologi informasi komunikasi (TIK) serta tersedot waktu mengerjakan berbagai pesanan (order) aplikasi.
Halini diakui hampir seluruh pemimpin rakyat ketika itu, termasuk Sukarno-Hatta dan para pelopor pemuda, kecuali yang berhaluan komunis atau yang percaya kerja fasis karena mereka sudah punya resep tersendiri.5 yaitu menyelengarakan sekolah sendiri. Nama sekolah tersebut adalah Tjahja Volksuniversiteit. Jong Indonesie mendirikan cabang
Pementasan"Hah" karya Putu Wijaya oleh Teater Mandiri saat geladi resik di Teater Salihara, Jakarta, Kamis, 10 April 2014. Hah merupakan salah satu dari tiga naskah yang akan dimainkan, dua naskah lainnya antara lain, Bila Malam Bertambah Malam, dan Jpret, yang akan dipentaskan pada tanggal 11 sampai 13 April 2014 dalam rangka memperingati hari jadi Putu Wijaya yang ke 70 Tahun .
SeniTeater untuk SMPMTs Kelas IX 190 Jadwal latihan dibagi menjadi dua bagian, yaitu latihan rutin atau disebut geladi kotor dan latihan bersih. Geladi kotor adalah latihan yang melatih seluruh pementasan, tetapi tidak • terperinci dan urut. Jadi, pemain bisa melatih diri pada adegan-adegan tertentu secara berulang-ulang sampai bisa.
TeaterMandiri Hampir seluruh pementasan Teater Mandiri adalah karya pimpinannya sendiri, yaitu putu Widjaya. Darmawan dari Bali yang juga sarjana hokum dari Universitas Gadjah Mada, serta bekas anak buah Rendra ini termasuk penulis drama ulung.
Bahasailmiah bukan sesuatu yang mudah. Ia tak sama dengan bahasa novel yang selalu memainkan perasaan seseorang. Ia bukan cerpen, syair, puisi dan pantun. Ia adalah kedalaman makna dan kejelasan artikulasi. Di zaman internet—yang dengan sembrono meloloskan beberapa postingan sampah—, bahasa ilmiah menemukan problemnya sendiri.
garapanPutu Wijaya Teater Mandiri pernah mementaskan naskah The Coffin is Too. Garapan putu wijaya teater mandiri pernah mementaskan. School SMAN 1 Malang; Course Title SENBUD 06; Uploaded By raafidrikudo27. Pages 34 This preview shows page 30 - 32 out of 34 pages.
karyayang terbingkai dalam ukuran 80 x 100 cm. Dan ini mungkin satu-satunya. karya on the spot melukis Markeso ketika ia hidup. Dan siapapun diijinkan. melihatnya, untuk berinteraksi dengan bagian sejarah seni tradisi Surabaya. Saya. pun bangga punya kesempatan melihatnya tanpa batasan, meski memfoto dan. upload lukisan tidak diijinkan.
KerjaMandiri Rubrik ini berisi pelatihan yang harus dikerjakan sendiri. Bentuk pelatihan ini adalah tertulis dan praktik. Pojok Bahasa Rubrik ini menyajikan informasi yang berkaitan dengan kebahasaan yang harus kamu ketahui. Tugas Mandiri Ikon ini isinya pelatihan seperti pada Kerja Mandiri. Namun, pelatihan ini harus dikerjakan di rumah.
Alquranadalah kitab yang harus dijadikan pedoman oleh seluruh umat Islam; Alquran adalah sebuah kitab suci yang agung, ia sepenuhnya menyejarah; Alquran adalah sumber pertama dari syariat Islam; Alquran adalah wahyu Allah yang merupakan huda dan rahmat bagi manusia; Alquran mengajarkan kita agar mempunyai sikap istikamah
MantanRedaktur dan Pemimpin Redaksi Majalah Annida (1991-2001) ini, tahun 1990 mendirikan Teater Bening—sebuah teater kampus di FSUI yang seluruh anggotanya adalah perempuan, menulis naskah dan menyutradarai pementasan teater tersebut di Gedung Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Auditorium Fakultas Sastra UI serta keliling Jawa dan
WalaupunAl Qur'an menjadi sebuah mukjizat, bukti kebenaran dari Nabi Muhammad saw tapi fungsi utamanya adalah menjadi"petunjuk untuk seluruh unmat manusia".Petunjuk yang dimaksud adalah petunjuk agama atau yang biasa disebut syari'at yang dalam pengertian kebahasaan selain "norma/hokum/aturan" juga berarti "Jalan menuju sumber
5 Teater Mandiri Hampir seluruh pementasan Teater Mandiri adalah karya pimpinannya sendiri, yaitu putu Widjaya. Darmawan dari Bali yang juga sarjana hokum dari Universitas Gadjah Mada, serta bekas anak buah Rendra ini termasuk penulis drama ulung.
Bagipublik teater yang mengikuti perkembangan teater tahun 1980-an, tentu tidak asing dengan kelompok teater pimpinan Fajar Suharno (eks Bengkel Teater) ini. Kecemasan para pakar pemerhati sejarah terhadap hampir seluruh evil product bidang-bidang politik, ekonomi, budaya serta semua muatan perilaku sejarah umat manusia, akhimya diacukan
Demikianseklumit kisah sufi dari naskah Laron-laron, karya Prie GS, yang ditampilkan kelompok teater Komunitas Panggung Semarang, sebagai salah satu agenda pementasan dalam Festival Kesenian Semarang, hasil kerja sama Komunitas Hysteria dan Dewan Kesenian Semarang (Dekase), di ruang B 6 Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Unnes, Selasa (26/8) lalu.
fDCh. a. Teater TradisionalTeater yang berkembang dikalangan rakyat disebut teater tradisional, sebagai lawan dari teater modern dan kontemporer. Teater tradisional tanpa naskah bersifat improvisasi. Sifatnya supel, artinya dipentaskan disembarang tampat. Jenis ini masih hidup dan berkembang didearah – daerah di seluruh Indonesia . Yang disebut teater tradisional itu, oleh Kasim Ahmad diklasifikasikan menjadi 3 macam yaitu sebagai berikut 1981 113-131.. 1. Teater RakyatSifat teater rakyat seperti halnya teater tradisional, yaitu improvisasi sederhana, spontan dan menyatu dengan kehidupan rakyat. Contoh – contoh teater rakyat adalah sebagai Makyong dan Mendu di daerah Riau dan Kalimantan Randai dan Bakaba di Sumatera Mamanda dan Berpandung di Kalimantan Arja, Topeng Prembon, dan Cepung di Ubrug, Banjet, Longser, Topeng Cirebon, Tarling, dan Ketuk Tilu dari Jawa Ketroprak, Srandul, Jemblung, Gataloco di Jawa Kentrung, Ludruk, Ketroprak, Topeng Dalang, Reyong, dan Jemblung di Jawa Timur Reyong yang biasanya hanya tarian itu ternyata sering berteater juga.- Cekepung di Dermuluk disematera Selatan dan Sinlirik di Sulawesi Lenong, Blantek, dan Topeng Betawi di Jakarta dan Randai di Sumatera Barat. 2. Teater KlasikSifat teater ini sudah mapan, artinya segala sesuatunya sudah teratur, dengan cerita, pelaku yang terlatih, gedung pertunjukan yang memandai dan tidak lagi menyatu dengan kehidupan rakyat penontonnya. Lahirnya jenis teater ini dari pusat kerjaan. Sifat feodalistik tampak dalam jenis teater ini. Contoh – contohnya Wayang Kulit, Wayang Orang, dan Wayang Golek. Ceritanya statis, tetapi memilki daya tarik berkat kreativitas dalang atau pelaku teater tersebut dalam menghidupakan lakon. 3. Teater TransisiTeater transisi merupakan teater yang bersumber dari teater tradisional, tetapi gaya penajiannya sudah dipengaruhi oleh teater Barat. Jenis teater seperti Komidi Stambul, Sandiwara Dardanela, Sandiwara Srimulat, dan sebagainya merupakan contoh teater transisi. Dalam Srimulat sebagai contoh, pola ceritanya sama dengan Ludruk atau Ketoprak, tetapi jenis ceritanya diambil dari dunia modern. Musik, dekor, dan property lain menggunakan teknik Abdul teater ini merupakan awal grup teater yang meninggalakan ciri – cirri tradisional, misalnya sebagai Tidak lagi bersifat improvisasi, tetapi naskah sudah mulai membagi Tidak lagi mengandalkan segi tari dan Struktur lakonnya tidak lagi statis, tetapi disesuaikan dengan perkembangan lakon atau cerita Komedi pada tahun 1891 dan didirikan oleh August Mahieu. Menampilkan lagu-lagu Melayu, maka komedi stambul disebut pula opera Melayu. Cerita yang ditunjukan sudah merupakan cerita yang bervariasi, seperti “ 1001 Malam”, “ Nyai Dasima”, “Oey Tam Bah Sia”, “ Si Conat”, “Halmet”, “Saudager Venesia”, “Penganten Di Sorga”, “De Roos Van Serang”, “Annie Van Mendut”, “Lily van Cikampek”, dan oleh Willy Klimanoff yang kemudian mengganti namanya dengan A. Piedro. Tanggal 21 juni 1926 didirikan The Malay Opera Dardanella. Dalam teater ini, tidak lagi ada nyanyian. Lakon – lakon diambil dari Indische Roman. Pemain yang masih dikenal hingga kini, misalnya Tan Ceng Bok, Devi Ja, Fifi Young, Pak Kuncung, dan sebagainya. Cerita yang dipentaskan dapat diklasifikasi menjadi empat macam, yaitu sebagai Cerita dari kisah 1001 Malam missal”Ali Baba”, “Aladin”, “Nur Cahaya”, “Abu Hasan”, “Nur Tuhan”, dan sebagainya,2. Cerita dari film popular saat itu missal”The Merry Widow”, “The Three Musketeer”, “Zorro”, “The Son Of Zorro”, “Two Lovers”, “Dougles Fairbank”, dn sebagainya,3. Cerita lama yang terkenal misal “Roses Of Zorro”, “Vera”, “Graff de Monte Cristo”,4. Cerita yang tergolong Indische Roman misal “De Ross van Serang”, “Perantaian 99”, “Annie van Mendut”, “Lily van Cikampek”, dan sebagainya.e. MayaTimbulnya teater Maya dipengaruhi oleh saudagar-saudagar Cina yang gemar akan teater. Maya dipimpin oleh Usmar Ismail. Bersama itu, muncul pula Cahaya Timur yang dipimpin Anjar Asmara. Berkat pengaruh pendidikan barat, banyak karya asli yang dihasilkan. Maya banyak mementaskan karya-karya pengarang Indonesia . Hal ini juga berkat kemajuan dokumentasi Pusat Kebudayaan Jepang di Indonesia saat itu Keimin Bunka Sidosho. Di samping hal tersebut, tampaknya peran sutradara sudah sangat penting. Naskah – naskah mengambil dari bumi Indonesia , meskipun masih meneladan pentas dunia Cine Drama InstitutLahir di Yogya tahun 1948 dan merupakan embrio bagi ASDRAFI Akademi Seni Drama dan Film dengan pusatnya di Yogyakarta . Banyak tokoh Yogyakarta yang mengembangkan teater seperti Kirdjomuljo, Rendra, Soebagio Sastrowardojo, Dokter Hoejoeng, Harymawan, Sri Moertono, dan sebagainya. Pantas dicatat pula, bahwa di Bogor juga bangkit kegiatan teater sekitar tahun 1950-an dengan teaternya bernama Teater Bogor. Di Surabaya juga muncul binatang Surabaya Film Co, sedangkan di Jakarta muncul Akademi Teater Nasional Indonesia 1955 yang seperti halnya ASDRAFI banyak melahirkan tokoh-tokoh teater masa kini. Kemudian muncul pula studi Grup Drama Yogya Pimpinan Rendra, Federasi Teater Kota Bogor pimpinan Taufiq Ismail, Himpunan Seniman Budayawan Islam pimpinan Junan Helmy Nasution dan Taeter Muslim di Yogya Dipimpin oleh Muhamad Diponogoro. g. Zaman Kemajuan Dunia TeaterSejak tahun 1968, yaitu Rendra pulang dari Amerika dan mendirikan Bengkel Teater di Yogya, maka mulailah zaman kemajuan dunia teater. Berdirinya Taman Ismail Marzuki sebagai ajang kreativitas para seniman termasuk juga dramawan, kiranya menambah kemajuan dunia teater. Jika Yogya adalah tempat penggembelang para calon dramawan, maka Jakarta adalah tempat di mana mereka berlaga. Tidak bisa dipungkiri, dalam hal demikian, peranan Taman Ismail Marzuki tidak sedikit. Banyak dramawan diwisuda melalui pementasan rutin disana. 1. Bengkel Teater Rendra Grup teater ini didirikan Rendra dikampung ketanggunan Yogyakarta , pada tahun 1968. Pementasan – pementasan drama yang melakukan selalu mendapatkan sambutan hangat dari penonton. Pementasannya seolah menjadi peta teater ditanah air. Ia seorang dramawan besar. Kebesarannya terbukti dengan penghargaan dari pemerintah berupa anugerah seni tahun 1975. ia juga mendapatkan hadiah dari Dewan Kesenian Jakarta, kesenian Jakarta , Karena lima tahun berturut-turut telah membina – kelebihan teater Rendra yang sulit dimiliki teater lainya, diantaranya adalah sebagai Popularitas Rendra, ia sebagai sutradara yang baik, penyiar, aktor, dan juga penyusun naskah Penyutradaraan yang baik. Sebagai sutradara, Rendra dipandang sebagai salah seorang dari beberapa gelintir sutradara terbaik negeri Daya kreativitas Rendra cukup tinggi ia tidak menggunakan konsep yang statis dalam penyutradaraan. Pada setiap pementasan ada unsur Rendra adalah aktor yang baik. Dalam setiap pementasan, Rendra selalu ikut main dan bahkan menjadi pelaku Memilih naskah yang bermutu. Rendra sendiri pandai menerjemahkan naskah drama dari bahasa asing, maka ia dapat memilih naskah yang bermutu. 2. Teater PopulerNama besar lain dalam dunia penyutradaraan teater, adalah Teguh Karya, dengna kelompoknya yang bernama Teater Populer HI, karena secara rutin berpentas di Hotel Indonesia, kemudian disebut Teater Populer saja. Kubunya menghasilkan nama-nama besar dalam dunia Teater dan film. Pemborong-pemborong piala citra, banyak dihasilkan dari kelompok teater popular ini. Kita kenal Slamet Rahardjo, El Malik, Christine Hakim, N. Riantiarno, Sayanglah bahwa akhir-akhir ini teaternya teguh Karya lebih berorientasi ke film, sehingga pementasan teaternya yang sring dijadikan tolok ukur peta kemajuan teater Indonesia tidak depat kita lihat. 3.. Teater KecilPada masa kejayaannya, di Indonesia pernah terdapat tiga grup teater yang besar, yaitu Bengkel Teater, Teater Populer, dan Teater kecil. Teater Kecil dipimpin oleh Arifin C. Noer. Melebihin kedua tokoh lainnya, Arifin adalah penulis naskah yang produktif. Naskahnya dipandang memiliki warna Indonesia . Penulis dari cirebon ini, sering memasukan unsur kesenian daerahnya keadalam teater yang ditulis/ Teater KomaTeater berwibawa yang akhir-akhir ini belum terjun kedunia film dalam arti sepenuhnya adalah Teater Koma yang dipimpin oleh Nano Riantiarno. Ia adalah penulis naskah drama yang kuat, dan sutradara yang potensial setelah surutnya generasi Teguh Karya, Arifin, dan “Opera Ikan Asin” dan “Opera Kecoa”, yang berbicara tentang rakyat jelatan. 5. Teater MandiriHampir seluruh pementasan Teater Mandiri adalah karya pimpinannya sendiri, yaitu putu Widjaya. Darmawan dari Bali yang juga sarjana hokum dari Universitas Gadjah Mada, serta bekas anak buah Rendra ini termasuk penulis drama ulung. Drama-dramanya yang akhir-akhir ini banyak kali ditulis dan dipentaskan mendapat warna kuat dari “Menunggu Godot” yang pernah dipentaskan bersama Rendra di Bengkel Teater, yaitu kisah penantian terhadap datangnya suatu kebahagiaan yang selalu tercipta. 6. Bengkel Muda SurabayaGrup teater pimpinan Akudiat dari Surabaya ini terkenal karena rombongan kentrungnya. Drama kentrung Akudiat tersebut hanyalah dalam arti adanya iringan kentrung dalam pementasannya. Lakonya menggingatkan kita pada bentuk Seniaman Sintingnya Majuki. 7. Teater Lain Disamping teater – teater yang sudah disebutkan didepan, banyak teater lainya yang disebut tangguh dan menyemarakkan dunia drama di Indonesia akhir-akhir ini, antara lain Teater Keliling pimpinan Rudolf Puspa dan Derry Sirna; Teater Dinasti pimpinan Emha Ainun Najib; Study Teater Bandung pimpinan Suyatna Anirun; Teater Padang pimpinan Wirsan Hadi; Teater Dewan Keseniana Ujung padang pimpinan Rahmat Age, dan Kecendrungan MutakhirAda beberapa kecendrungan Mutakhir drama di Indonesia , yaitu Drama Eksperimental seperti karya Rendra berikut Drama Non-Konvensional, seperti karya Akhdiat dan Putu Widjayab. Drama Absurd, seperti karya-karya Iwan Simatupang dan Arifin C. Eksistensialisme, seperti karya-karya Iwan Simatupang, Arifin C. Noer, dan Putu Kehidupan Gelandangan, seperti karya Iwan Simatupang dan Arifin C. Teater Lingkungan dan Warna Daerah, seperti karyaAkhudiat yang memadukan teater modern denga kentrung Bengkel Muda Surabaya; Wirsan Hadi yang mengetegahkan cirri dari teater tradisional Minangkabau; Teater Jeprik Yogya yang memasukkan tarian ketropak dan gamelan Jawa Dalam teater lingkungan yang diekspresikanf. Kritik sosial, baik yang keras seperti karya-karya Rendra. Ataupun yang halus seperti karya-karya N. Riantiano akhir-akhir ini.a. W. S. RendraSudah sejak sebelum studi di American Academy of Dramatical Art AADA, rendra sudah menunjukan potensinya yang besar dalam dunia teater drama. Sepulangnya dari Amerika Serikat pada tahun 1967, potensinya dalam bidang teater lebih mantap Sekitar tahun 1968 didirikanya “Bengkel Teater” yang secara berturut-turut dan terus-menerus menghasilkan drama-drama Arifin C. NoerDari Arifin C. Noer kita memperoleh dua lakon yang mewakili cirri-ciri kemutakhiran, yaitu “Mega-mega” dan “Kapai-kapai”. Kedua drama ini berbicara tentang orang-orang terpencil, tersisa, atau orang papa. Akan tetapi keduanya juga berbicara tentang harapan. Bahwa dia dalam kehidupan yang papa, manusia selalu mempunyai harapan, yang datangnya dari kekuasaan di atas Iwan SimatupangPuncak absurditas kehidupan dan filsafat eksistensialisme dalam drama kiranya dapat kita hayati lewat drama Iwan Simatupang yang berjudul “ Taman ”. Tokoh-tokoh dalam drama “ Taman ” adalah manusia – manusia yang mencoba menyadari eksistensimya. Justru dengan kesadaran itu, mereka merasa bahwa kehidupan ini absurd. OT dan LSB menunjukan perdebatan konyol untuk membuktikan bahwa orang itu memiliki eksistensi yang berbeda. Demikian juga perjumpaan antara PB dengan wanita telah menghasilkan konflik karena mereka masing-masing menyadari eksistensinya. d. Putu WidjayaPutu Widjaya banyak mengadakan eksperimen dengan tokoh-tokoh drama yang tidak menunjukan identitas individual. Drama-dramanya disamping dengan tokoh-tokoh yang non-konvensional juga menunjukan sifat abstrak sukar dipahami. Judul-judul dramanya begitu singkat. Misalnya “Bom”, “Tai”, “Aduh”, “Sssst”, “Gress”, dan sebagainya. Drama-drama pintu oleh Goenawan Moehammad dinyatakan sebagai drama yang tumbuh dari penggalaman yang konkrit, artinya dalam menulis lakon-lakon itu, Putu membekali dirinya dengan pengalaman. e. Akhudiat Parodi dan KentrungWarna daerah dihidupkan kembali lewat tangan Akhudiat dalam dramanya “Joko Tarub”. Sifat kedaerahan Joko tarub diberi bumbu penyedap supaya cocok dengan selerah masa kini. Atavisme yang muncul diberi warna baru, sehingga terjadi dekontruksionisme terhadap tokoh-tokohnya. Joko tarub dan Nawang Wulan tidak seperti yang digambarkan dalam mitos-mitos lama di jawa. Kecendrungan semacam itu kiranya banyak muncul pada dekade terakhir perkembangan drama di Indonesia .f. Riantiarno Penampilan Kehidupan KumuhDi depan penulis sering kali menyebut-nyebut nama Riantiarno sebagai dermawan besar saat ini. Ia banyak menyebutkan kehidupan kumuh. Bukan kehidupan orang gelandangan seperti karya-karya Arifin C. Noer, akan tetapi kehidupan rakyat jembel dengan problemanya dan Riantiarno mencoba menjawab problem ini. Tanpa malu-malu dan ini dapat disebut kebangkitan teater Indonesia modern, Nano melukiskan kehidupan homoseksual dikota metropolitan antara Roima dengan Yulimi. g. Kritik SosialBaik karya Rendra, Arifin, Putu, maupun Riantiarno sebenarnya menampilkan kritik sosial. Hanya saja cara mereka menyampaikan kritik itu berbeda-beda. Akan tetapi cara memandang realitas adalah sama. Mereka berpandangan bahwa dalam masyarakat masih ada kepincangan. Ketidakadilan, penghisapan manusia atas manusia penyelewengan dari mereka yang harusnya menegakkan hukum dan keadilan, dan sebagainya. Dengan menggunakan gaya , simbol, dan bahasa mereka yang khas, mereka mengiginkan agar kita semua menjadi sadar akan kekurangan-kekurangan itu, dan kalau dapat berusaha turut memperbaikinya. Bukankah karya seni merupakan kekuatan moral? h. Eksperimen SendiriJika tadinya para drawaman senantiasa berkiblat berkiblat ke barat, maka pada periode mutakhir ini mereka mencoba mengadakan eksperimen sendiri. Meskipun bentuk eksperimennya masih kurang berani karena takut dicap kembali kesifat tradisional, akan tetapi kita harus mengakui bahwa bentuk-bentuk eksperimen itu menunjukan kreativitas yang cendrung berkembang adalah perpaduan antara teater modern dengan teater tradisional seperti yang dikemukakan Akhudiat, dan juga bentuk teater abstrak. Sebenarnya hal ini perlu koreksi lagi. Sebelum mengadakan eksperimen dan membuat yang abstrak, perlu dasar-dasar pengetahuan dan keterampilan membuat bentuk drama yang Ali ShahabTeater September dibawah pimpinan Ali Shahab menunjukan suatu kecendrungan dari dalam dunia teater, yaitu masuknya unsur teknologi mutakhir dalam penggarapan drama, khususnya drama televise. Cerita yang hidup dikalangan rakyat digarap secara lebih modern, dengan teknik pemotretan yang cukup mutakhir, mengahsilkan suatu tontonan drama yang menarik. Dalam hal ini, teater September memadukan unsur dramaturgi dengan teknologi bidang elektronik. Dengan eksperimen-eksperimennya, Ali Shahab mencoba menjadikan teater sebagai tontonan yang memikat, menarik dan enak ditonton, bukannya tontonan yang sarat dengan filsafat dan pikiran muluk-muluk. j. Kecendrungan LainDi berbagai kota, banyak darmawan muda yang masih memiliki idealisme tinggi meneruskan kegiatan berteater meskipun secara financial tidak menjanjikan perbaikan nasib di surakarta, kehidupan taman Budaya Surakarta TBS dimotori oleh dramawan –dramawan musa seperti Hanindrawan, Sosiawan Leak, dan dramawan-dramawan muda dari 9 fakultas di UNS, serta dari perguruan tinggi lain di surakarta
Putu Wijaya bersama Teater Mandiri mementaskan naskah monolog berjudul "TRIK" di Gedung Kesenian Jakarta, Jakarta, Jumat 24/6/2011. Foto ANTARA/ Teresia May – Sebagai hasil Bengkel Teater Yogya, Putu Wijaya terpesona pada kata mandiri yang bermakna bebas secara sosial. Atas dasar ini, pada 1971, Putu kemudian membentuk Teater Mandiri di Jakarta. Ia menerapkan konsep Bali, desa-kala-patra ruang-waktu-keadaan dalam kerja kreatif dan kegiatan kelompok teater yang dipimpinnya. Menurut Putu Wijaya, kata mandiri berasal dari bahasa Jawa. Kata ini dipopulerkan oleh Prof. Djojodigoena dalam kuliah sosiologi di Pagelaran, Yogyakarta, pada 1960-an. Mandiri merujuk pada kemampuan seseorang untuk berdiri sendiri, tetapi juga bisa bekerja sama dengan orang lain. Baginya, kata mandiri ini tampak sangat dibutuhkan dalam pembangunan kepribadian dan jati diri bangsa, di era Indonesia yang telah lepas dari belenggu penjajahan fisik namun masih mengalami berbagai hambatan mentalitas. Di awal berdirinya, Teater Mandiri membuat pertunjukan untuk televisi. Selanjutnya, sejak 1974, kelompok teater ini manggung setiap tahun di TIM dan Gedung Kesenian Jakarta. Putu Wijaya menulis semua naskah dan menyutradarai pementasan Teater mandiri. Tercatat, hanya dua kali Teater Mandiri mementaskan naskah lain. Pertama, naskah “The Coffin Is Too Big for The Hole” karya Kuo Pao Kun Singapura untuk Festival Asia di Tokyo pada 2000. Kedua, naskah “Kereta Kencana” karya WS Rendra 2009 dalam rangka memperingati 100 hari wafatnya Rendra. Alasan Putu Wijaya menulis semua naskah pementasannya adalah karena dia tidak hanya ingin menyutradarai pertunjukan semata, tetapi juga menghasilkan naskah—sesuatu yang menjadi semangat dalam kehidupan teater modern di Indonesia. Naskah-naskah Teater Mandiri memiliki kekhasan, yaitu judulnya hanya terdiri dari satu kata, sebagian di antaranya bahkan hanya satu suku kata. Bagi Putu, dalam kata seruan yang umumnya hanya terdiri atas satu suku kata seperti wah, lho, dor, dan sebagainya, tersimpan banyak rasa dan pengertian. Ambuitas makna dalam kata-kata itu menimbulkan kelucuan dan keanehan, tetapi juga kedalaman bagi yang suka berpikir. Tokoh-tokoh dalam naskahnya rata-rata tidak bernama, bahkan tidak jelas latar belakangnya. Hal ini sengaja dilakukan untuk menampung kemajemukan yang dimiliki Indonesia dalam berbagai dimensi, seperti keberagaman bahasa, ideologi, agama, standar sosial, pendidikan, dan lain sebagainya. Dengan membuat karakter seperti tokoh dongeng, lakon menjadi netral sehingga bisa diadaptasikan ke mana saja. Memang ada resikonya, yaitu cerita jadi tidak bersifat eksklusif. Sebagai orang Bali, Putu Wijaya mengadopsi falsafah Bali ke dalam pementasannya. Bahkan, ia memiliki gaya yang mirip dengan lukisan Bali yang cenderung mengabaikan perspektif dan “ketaksesuaian”. Teaternya penuh kejutan dengan berbagai peristiwa yang tidak masuk akal, humor lugas, anekdot mengejutkan, akrobatik, dan sebagainya. Adegan-adegan tersebut dipentaskan sebagai tontonan yang penuh warna dan gerak, dengan musik yang dinamis sekaligus datar. Menurut Putu Wijaya, Teater Mandiri memiliki 2 acuan dalam bekerja. Pertama, “Bertolak Dari Yang Ada.” Maknanya adalah untuk mengajak anggotanya belajar untuk menerima dan menghayati apa yang ada, kemudian memanfaatkannya, dan mengoptimalkannya untuk mencapai apa yang dikehendaki. Menurutnya, dengan dasar ini, semua kelemahan diberdayakan menjadi kekuatan sehingga tak ada yang tak dapat menghentikan proses. Proses menjadi sangat penting, lebih penting dari hasil. Para pendukung diajak belajar bekerja secara gotong-royong sebagai sebuah tim yang padu. Sebagaimana juga kehidupan, produk teater tidak pernah selesai, selalu berkembang dan tumbuh. Kedua, “Teror Mental.” Teror mental atau kegoncangan pada jiwa dimaksudkan untuk membuat seseorang berpikir kembali, sehingga waspada. Bagi Teater Mandiri, tontonan tidak semata-mata bertujuan untuk menghibur. Bahwa tontonan memiliki fungsi menghibur memang dimanfaatkan. Namun, yang hendak dikejar adalah mengguncang batin sehingga tercipta pengalaman spiritual. Diharapkan, baik dalam diri penonton maupun para pendukung pementasan, akan bangkit kesadaran baru. Teater dalam berbagai aspeknya dikembangkan secara maksimal untuk membentuk jati diri. Anggota Teater Mandiri berasal dari berbagai kalangan dan profesi. Hanya sedikit aktor/pemain yang benar-benar pemain mau bergabung, sehingga Teater Mandiri pernah dijuluki people theater oleh seorang sutradara asal Taiwan. Di dalam Teater Mandiri, keaktoran yang memerlukan “peran” kadang kala mengganggu, karena, naskah bisa dirombak dan dipreteli serta dialog dibagi-bagi seperti membagi tugas sesuai dengan desa-kala-patra ruang-waktu-keadaan. Desa-kala-patra adalah konsep kerja dalam kearifan lokal Bali yang mendasari proses bekerja di Teater Mandiri. Dengan cara kerja “Bertolak Dari Yang Ada”, tak ada yang bisa menghalangi apa yang ingin dikerjakan, asalkan mengadaptasi desa-kala-patra secara kreatif. Bahkan bila perlu, konsep pun akan dilanggar dan ditolak, kalau memang sudah tidak sesuai/terbukti tidak benar lagi dari sudut desa-kala-patra. Hal ini tidak berarti bahwa Teater Mandiri tidak punya pendirian. Dengan cara ini, Teater Mandiri dapat tumbuh, berkembang, dan hidup yang wajar, serta mampu membebaskan diri dari dogma-dogma yang salah atau kedaluwarsa. Pemikiran ini terbukti ampuh. Di umurnya yang sudah hampir setengah abad ini, Teater Mandiri tetap berdiri dan tetap semangat berkarya. Sumber
A. Teater Tradisional Teater yang berkembang dikalangan rakyat disebut teater tradisional, sebagai lawan dari teater modern dan kontemporer. Teater tradisional tanpa naskah bersifat improvisasi. Sifatnya supel, artinya dipentaskan disembarang tampat. Jenis ini masih hidup dan berkembang didearah – daerah di seluruh Indonesia . Yang disebut teater tradisional itu, oleh Kasim Ahmad diklasifikasikan menjadi 3 macam yaitu sebagai berikut 1981 113-131. Sifat teater rakyat seperti halnya teater tradisional, yaitu improvisasi sederhana, spontan dan menyatu dengan kehidupan rakyat. Contoh – contoh teater rakyat adalah sebagai berikut a. Makyong dan Mendu di daerah Riau dan Kalimantan Barat. b. Randai dan Bakaba di Sumatera Barat. c. Mamanda dan Berpandung di Kalimantan Selatan. d. Arja, Topeng Prembon, dan Cepung di Bali. e. Ubrug, Banjet, Longser, Topeng Cirebon, Tarling, dan Ketuk Tilu dari Jawa Barat. f. Ketroprak, Srandul, Jemblung, Gataloco di Jawa Tengah. g. Kentrung, Ludruk, Ketroprak, Topeng Dalang, Reyong, dan Jemblung di Jawa Timur Reyong yang biasanya hanya tarian itu ternyata sering berteater juga. i. Dermuluk disematera Selatan dan Sinlirik di Sulawesi Selatan. j. Lenong, Blantek, dan Topeng Betawi di Jakarta dan sebagainya. k. Randai di Sumatera Barat. Sifat teater ini sudah mapan, artinya segala sesuatunya sudah teratur, dengan cerita, pelaku yang terlatih, gedung pertunjukan yang memandai dan tidak lagi menyatu dengan kehidupan rakyat penontonnya. Lahirnya jenis teater ini dari pusat kerjaan. Sifat feodalistik tampak dalam jenis teater ini. Contoh – contohnya Wayang Kulit, Wayang Orang, dan Wayang Golek. Ceritanya statis, tetapi memilki daya tarik berkat kreativitas dalang atau pelaku teater tersebut dalam menghidupakan lakon. Diantaranya ialah Teater transisi merupakan teater yang bersumber dari teater tradisional, tetapi gaya penajiannya sudah dipengaruhi oleh teater Barat. Jenis teater seperti Komidi Stambul, Sandiwara Dardanela, Sandiwara Srimulat, dan sebagainya merupakan contoh teater transisi. Dalam Srimulat sebagai contoh, pola ceritanya sama dengan Ludruk atau Ketoprak, tetapi jenis ceritanya diambil dari dunia modern. Musik, dekor, dan property lain menggunakan teknik Barat. Grup teater ini merupakan awal grup teater yang meninggalakan ciri – ciri tradisional, misalnya sebagai berikut. 1 Tidak lagi bersifat improvisasi, tetapi naskah sudah mulai membagi peran. 2 Tidak lagi mengandalkan segi tari dan lagu. 3 Struktur lakonnya tidak lagi statis, tetapi disesuaikan dengan perkembangan lakon atau cerita sastra. Lahir pada tahun 1891 dan didirikan oleh August Mahieu. Menampilkan lagu-lagu Melayu, maka komedi stambul disebut pula opera Melayu. Cerita yang ditunjukan sudah merupakan cerita yang bervariasi, seperti “ 1001 Malam”, “ Nyai Dasima”, “Oey Tam Bah Sia”, “ Si Conat”, “Halmet”, “Saudager Venesia”, “Penganten Di Sorga”, “De Roos Van Serang”, “Annie Van Mendut”, “Lily van Cikampek”, dan sebagainya. Didirikan oleh Willy Klimanoff yang kemudian mengganti namanya dengan A. Piedro. Tanggal 21 juni 1926 didirikan The Malay Opera Dardanella. Dalam teater ini, tidak lagi ada nyanyian. Lakon – lakon diambil dari Indische Roman. Pemain yang masih dikenal hingga kini, misalnya Tan Ceng Bok, Devi Ja, Fifi Young, Pak Kuncung, dan sebagainya. Cerita yang dipentaskan dapat diklasifikasi menjadi empat macam, yaitu sebagai berikut. 1 Cerita dari kisah 1001 Malam misal”Ali Baba”, “Aladin”, “Nur Cahaya”, “Abu Hasan”, “Nur Tuhan”, dan sebagainya, 2 Cerita dari film popular saat itu missal”The Merry Widow”, “The Three Musketeer”, “Zorro”, “The Son Of Zorro”, “Two Lovers”, “Dougles Fairbank”, dn sebagainya, 3 Cerita lama yang terkenal misal “Roses Of Zorro”, “Vera”, “Graff de Monte Cristo”, 4 Cerita yang tergolong Indische Roman misal “De Ross van Serang”, “Perantaian 99”, “Annie van Mendut”, “Lily van Cikampek”, dan sebagainya. Timbulnya teater Maya dipengaruhi oleh saudagar-saudagar Cina yang gemar akan teater. Maya dipimpin oleh Usmar Ismail. Bersama itu, muncul pula Cahaya Timur yang dipimpin Anjar Asmara. Berkat pengaruh pendidikan barat, banyak karya asli yang dihasilkan. Maya banyak mementaskan karya-karya pengarang Indonesia . Hal ini juga berkat kemajuan dokumentasi Pusat Kebudayaan Jepang di Indonesia saat itu Keimin Bunka Sidosho. Di samping hal tersebut, tampaknya peran sutradara sudah sangat penting. Naskah – naskah mengambil dari bumi Indonesia , meskipun masih meneladan pentas dunia Barat. Lahir di Yogya tahun 1948 dan merupakan embrio bagi ASDRAFI Akademi Seni Drama dan Film dengan pusatnya di Yogyakarta . Banyak tokoh Yogyakarta yang mengembangkan teater seperti Kirdjomuljo, Rendra, Soebagio Sastrowardojo, Dokter Hoejoeng, Harymawan, Sri Moertono, dan sebagainya. Pantas dicatat pula, bahwa di Bogor juga bangkit kegiatan teater sekitar tahun 1950-an dengan teaternya bernama Teater Bogor. Di Surabaya juga muncul binatang Surabaya Film Co, sedangkan di Jakarta muncul Akademi Teater Nasional Indonesia 1955 yang seperti halnya ASDRAFI banyak melahirkan tokoh-tokoh teater masa kini. Kemudian muncul pula studi Grup Drama Yogya Pimpinan Rendra, Federasi Teater Kota Bogor pimpinan Taufiq Ismail, Himpunan Seniman Budayawan Islam pimpinan Junan Helmy Nasution dan Taeter Muslim di Yogya Dipimpin oleh Muhamad Diponogoro. B. Zaman kemajuan teater Indonesia Sejak tahun 1968, yaitu Rendra pulang dari Amerika dan mendirikan Bengkel Teater di Yogya, maka mulailah zaman kemajuan dunia teater. Berdirinya Taman Ismail Marzuki sebagai ajang kreativitas para seniman termasuk juga dramawan, kiranya menambah kemajuan dunia teater. Jika Yogya adalah tempat penggembelang para calon dramawan, maka Jakarta adalah tempat di mana mereka berlaga. Tidak bisa dipungkiri, dalam hal demikian, peranan Taman Ismail Marzuki tidak sedikit. Banyak dramawan diwisuda melalui pementasan rutin disana. Kemudian bermunculan pula kelompok-kelompok teater, diantaranya 1. Bengkel Teater Rendra. Grup teater ini didirikan Rendra dikampung ketanggunan Yogyakarta , pada tahun 1968. Pementasan – pementasan drama yang melakukan selalu mendapatkan sambutan hangat dari penonton. Pementasannya seolah menjadi peta teater ditanah air. Ia seorang dramawan besar. Kebesarannya terbukti dengan penghargaan dari pemerintah berupa anugerah seni tahun 1975. ia juga mendapatkan hadiah dari Dewan Kesenian Jakarta, kesenian Jakarta , Karena lima tahun berturut-turut telah membina drama. Kelebihan – kelebihan teater Rendra yang sulit dimiliki teater lainya, diantaranya adalah sebagai berikut a. Popularitas Rendra, ia sebagai sutradara yang baik, penyiar, aktor, dan juga penyusun naskah drama. b. Penyutradaraan yang baik. Sebagai sutradara, Rendra dipandang sebagai salah seorang dari beberapa gelintir sutradara terbaik negeri ini. c. Daya kreativitas Rendra cukup tinggi ia tidak menggunakan konsep yang statis dalam penyutradaraan. Pada setiap pementasan ada unsur baru. d. Rendra adalah aktor yang baik. Dalam setiap pementasan, Rendra selalu ikut main dan bahkan menjadi pelaku utama. e. Memilih naskah yang bermutu. Rendra sendiri pandai menerjemahkan naskah drama dari bahasa asing, maka ia dapat memilih naskah yang bermutu. Nama besar lain dalam dunia penyutradaraan teater, adalah Teguh Karya, dengna kelompoknya yang bernama Teater Populer HI, karena secara rutin berpentas di Hotel Indonesia, kemudian disebut Teater Populer saja. Kubunya menghasilkan nama-nama besar dalam dunia Teater dan film. Pemborong-pemborong piala citra, banyak dihasilkan dari kelompok teater popular ini. Kita kenal Slamet Rahardjo, El Malik, Christine Hakim, N. Riantiarno, Sayanglah bahwa akhir-akhir ini teaternya teguh Karya lebih berorientasi ke film, sehingga pementasan teaternya yang sring dijadikan tolok ukur peta kemajuan teater Indonesia tidak depat kita lihat. Pada masa kejayaannya, di Indonesia pernah terdapat tiga grup teater yang besar, yaitu Bengkel Teater, Teater Populer, dan Teater kecil. Teater Kecil dipimpin oleh Arifin C. Noer. Melebihin kedua tokoh lainnya, Arifin adalah penulis naskah yang produktif. Naskahnya dipandang memiliki warna Indonesia . Penulis dari cirebon ini, sering memasukan unsur kesenian daerahnya keadalam teater yang ditulis/ dipentaskannya. Teater berwibawa yang akhir-akhir ini belum terjun kedunia film dalam arti sepenuhnya adalah Teater Koma yang dipimpin oleh Nano Riantiarno. Ia adalah penulis naskah drama yang kuat, dan sutradara yang potensial setelah surutnya generasi Teguh Karya, Arifin, dan “Opera Ikan Asin” dan “Opera Kecoa”, yang berbicara tentang rakyat jelatan. Hampir seluruh pementasan Teater Mandiri adalah karya pimpinannya sendiri, yaitu putu Widjaya. Darmawan dari Bali yang juga sarjana hokum dari Universitas Gadjah Mada, serta bekas anak buah Rendra ini termasuk penulis drama ulung. Drama-dramanya yang akhir-akhir ini banyak kali ditulis dan dipentaskan mendapat warna kuat dari “Menunggu Godot” yang pernah dipentaskan bersama Rendra di Bengkel Teater, yaitu kisah penantian terhadap datangnya suatu kebahagiaan yang selalu tercipta. Grup teater pimpinan Akudiat dari Surabaya ini terkenal karena rombongan kentrungnya. Drama kentrung Akudiat tersebut hanyalah dalam arti adanya iringan kentrung dalam pementasannya. Lakonya menggingatkan kita pada bentuk Seniaman Sintingnya Majuki. Disamping teater – teater yang sudah disebutkan didepan, banyak teater lainya yang disebut tangguh dan menyemarakkan dunia drama di Indonesia akhir-akhir ini, antara lain Teater Keliling pimpinan Rudolf Puspa dan Derry Sirna; Teater Dinasti pimpinan Emha Ainun Najib; Study Teater Bandung pimpinan Suyatna Anirun; Teater Padang pimpinan Wirsan Hadi; Teater Dewan Keseniana Ujung padang pimpinan Rahmat Age, dan sebagainya. Ada beberapa kecendrungan Mutakhir drama di Indonesia , yaitu Drama Eksperimental seperti karya Rendra berikut ini 1. Drama Non-Konvensional, seperti karya Akhdiat dan Putu Widjaya. 2. Drama Absurd, seperti karya-karya Iwan Simatupang dan Arifin C. Noer. 3. Eksistensialisme, seperti karya-karya Iwan Simatupang, Arifin C. Noer, dan Putu Widjaya. 4. Kehidupan Gelandangan, seperti karya Iwan Simatupang dan Arifin C. Noer. 5. Teater Lingkungan dan Warna Daerah, seperti karyaAkhudiat yang memadukan teater modern denga kentrung Bengkel Muda Surabaya; Wirsan Hadi yang mengetegahkan ciri dari teater tradisional Minangkabau; Teater Jeprik Yogya yang memasukkan tarian ketropak dan gamelan Jawa Dalam teater lingkungan yang diekspresikan. Kritik sosial, baik yang keras seperti karya-karya Rendra. Ataupun yang halus seperti karya-karya N. Riantiano akhir-akhir ini. Berikut beberapa tokoh drama Indonesia yang memiliki muatan kritik sosial dalam setiap karyanya baik kritik sosial yang keras maupun halus Sudah sejak sebelum studi di American Academy of Dramatical Art AADA, rendra sudah menunjukan potensinya yang besar dalam dunia teater drama. Sepulangnya dari Amerika Serikat pada tahun 1967, potensinya dalam bidang teater lebih mantap Sekitar tahun 1968 didirikanya “Bengkel Teater” yang secara berturut-turut dan terus-menerus menghasilkan drama-drama bermutu. Dari Arifin C. Noer kita memperoleh dua lakon yang mewakili ciri-ciri kemutakhiran, yaitu “Mega-mega” dan “Kapai-kapai”. Kedua drama ini berbicara tentang orang-orang terpencil, tersisa, atau orang papa. Akan tetapi keduanya juga berbicara tentang harapan. Bahwa dia dalam kehidupan yang papa, manusia selalu mempunyai harapan, yang datangnya dari kekuasaan di atas manusia. Puncak absurditas kehidupan dan filsafat eksistensialisme dalam drama kiranya dapat kita hayati lewat drama Iwan Simatupang yang berjudul “ Taman ”. Tokoh-tokoh dalam drama “ Taman ” adalah manusia – manusia yang mencoba menyadari eksistensimya. Justru dengan kesadaran itu, mereka merasa bahwa kehidupan ini absurd. OT dan LSB menunjukan perdebatan konyol untuk membuktikan bahwa orang itu memiliki eksistensi yang berbeda. Demikian juga perjumpaan antara PB dengan wanita telah menghasilkan konflik karena mereka masing-masing menyadari eksistensinya. Putu Widjaya banyak mengadakan eksperimen dengan tokoh-tokoh drama yang tidak menunjukan identitas individual. Drama-dramanya disamping dengan tokoh-tokoh yang non-konvensional juga menunjukan sifat abstrak sukar dipahami. Judul-judul dramanya begitu singkat. Misalnya “Bom”, “Tai”, “Aduh”, “Sssst”, “Gress”, dan sebagainya. Drama-drama pintu oleh Goenawan Moehammad dinyatakan sebagai drama yang tumbuh dari penggalaman yang konkrit, artinya dalam menulis lakon-lakon itu, Putu membekali dirinya dengan pengalaman. 5. Akhudiat Parodi dan Kentrung Warna daerah dihidupkan kembali lewat tangan Akhudiat dalam dramanya “Joko Tarub”. Sifat kedaerahan Joko tarub diberi bumbu penyedap supaya cocok dengan selerah masa kini. Atavisme yang muncul diberi warna baru, sehingga terjadi dekontruksionisme terhadap tokoh-tokohnya. Joko tarub dan Nawang Wulan tidak seperti yang digambarkan dalam mitos-mitos lama di jawa. Kecendrungan semacam itu kiranya banyak muncul pada dekade terakhir perkembangan drama di Indonesia. 6. Riantiarno Penampilan Kehidupan Kumuh Di depan penulis sering kali menyebut-nyebut nama Riantiarno sebagai dermawan besar saat ini. Ia banyak menyebutkan kehidupan kumuh. Bukan kehidupan orang gelandangan seperti karya-karya Arifin C. Noer, akan tetapi kehidupan rakyat jembel dengan problemanya dan Riantiarno mencoba menjawab problem ini. Tanpa malu-malu dan ini dapat disebut kebangkitan teater Indonesia modern, Nano melukiskan kehidupan homoseksual dikota metropolitan antara Roima dengan Yulimi. Kritik Sosial. Baik karya Rendra, Arifin, Putu, maupun Riantiarno sebenarnya menampilkan kritik sosial. Hanya saja cara mereka menyampaikan kritik itu berbeda-beda. Akan tetapi cara memandang realitas adalah sama. Mereka berpandangan bahwa dalam masyarakat masih ada kepincangan. Ketidakadilan, penghisapan manusia atas manusia penyelewengan dari mereka yang harusnya menegakkan hukum dan keadilan, dan sebagainya. Dengan menggunakan gaya , simbol, dan bahasa mereka yang khas, mereka mengiginkan agar kita semua menjadi sadar akan kekurangan-kekurangan itu, dan kalau dapat berusaha turut memperbaikinya. Bukankah karya seni merupakan kekuatan moral? Jika tadinya para drawaman senantiasa berkiblat berkiblat ke barat, maka pada periode mutakhir ini mereka mencoba mengadakan eksperimen sendiri. Meskipun bentuk eksperimennya masih kurang berani karena takut dicap kembali kesifat tradisional, akan tetapi kita harus mengakui bahwa bentuk-bentuk eksperimen itu menunjukan kreativitas mereka. Eksperimen yang cendrung berkembang adalah perpaduan antara teater modern dengan teater tradisional seperti yang dikemukakan Akhudiat, dan juga bentuk teater abstrak. Sebenarnya hal ini perlu koreksi lagi. Sebelum mengadakan eksperimen dan membuat yang abstrak, perlu dasar-dasar pengetahuan dan keterampilan membuat bentuk drama yang biasa. Teater September dibawah pimpinan Ali Shahab menunjukan suatu kecendrungan dari dalam dunia teater, yaitu masuknya unsur teknologi mutakhir dalam penggarapan drama, khususnya drama televise. Cerita yang hidup dikalangan rakyat digarap secara lebih modern, dengan teknik pemotretan yang cukup mutakhir, mengahsilkan suatu tontonan drama yang menarik. Dalam hal ini, teater September memadukan unsur dramaturgi dengan teknologi bidang elektronik. Dengan eksperimen-eksperimennya, Ali Shahab mencoba menjadikan teater sebagai tontonan yang memikat, menarik dan enak ditonton, bukannya tontonan yang sarat dengan filsafat dan pikiran muluk-muluk. Di berbagai kota, banyak darmawan muda yang masih memiliki idealisme tinggi meneruskan kegiatan berteater meskipun secara financial tidak menjanjikan perbaikan nasib di surakarta, kehidupan taman Budaya Surakarta TBS dimotori oleh dramawan –dramawan musa seperti Hanindrawan, Sosiawan Leak, dan dramawan-dramawan muda dari 9 fakultas di UNS, serta dari perguruan tinggi lain di Surakarta. Oleh Dafikurrahman Mashor Lahir di Sumenep,11 Juli 1992
Review Of Hampir Seluruh Pementasan Teater Mandiri Adalah Karya Pimpinannya Sendiri Yaitu Ideas. Web berikut ini bukan kegiatan yang dilakukan dalam perancangan pementasan teater modern. Hal ini menjadi pijakan kelompok ini dalam BAJU PENGANTIN ADAT, SEWA BAJU BODO dewasa s/d Jumbo size, sewa from karya ibsen yang paling terkenal dan banyak dipentaskan di indonesia adalah nova, saduran dari terjemahan armyn pane ratna. Darmawan dari bali yang juga sarjana hokum dari universitas. Menurut putu, kata mandiri dipopulerkan oleh Berikut Ini Bukan Kegiatan Yang Dilakukan Dalam Perancangan Pementasan Teater salah satu kesenian yang sampai sekarang masih dilestarikan ialah seni teater. Web teater modern memiliki beberapa unsur pemeranan seperti lakon, penokohan dan perwatakan, unsur tubuh, unsur suara, unsur penghayatan, unsur ruang, unsur kostum,. Web hampir seluruh pementasan teater mandiri adalah karya pimpinannya sendiri, yaitu putu Teater Tradisional Dan Teater Modern Adalah Sebagai BerikutWeb pementasan teater merupakan puncak dari semua kegiatan persiapan pertunjukan. Karya karya seni dipandanganya sebagai mimetik, yaitu imitasi dari kehidupan jasmaniah manusia. Web secara etimologis, pengertian teater adalah suatu gedung atau auditorium yang digunakan untuk pertunjukan Pementasan Teater Dibangun Oleh Suatu Sistem tanda dari lakon ke pementasan teater pementasan teater pada hakikatnya adalah tanda atas tanda’. Darmawan dari bali yang juga sarjana hokum dari universitas. Web pementasan teater sebagai suatu sistem penandaan Plot Dalam Lakon Konvensional Biasanya Sudah Jelas,.Web plot dalam naskah lakon akan terwujud dalam susunan peristiwa yang terjadi dalam pementasan. Teater ialah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang. Teater adalah gedung pertunjukan atau Hampir Seluruh Pementasan Teater Mandiri Adalah Karya Pimpinannya Sendiri, Yaitu Putu materi pementasan yang dimaksud adalah wujud karya teater yang dibangun melalui proses kreatif seniman atau komunal masyarakat melalui tahapan dengan. Teater merupakan suatu kegiatan manusia yang secara sadar menggunakan. Web pementasan teater terbagi menjadi dua macam, yakni teater tradisional dan teater modern. 9+ Hampir Seluruh Pementasan Teater Mandiri Adalah Karya Pimpinannya Sendiri Yaitu Sedang Trend Reviewed by Bumbu Bumbu Masakan on Februari 01, 2023 Rating 5
hampir seluruh pementasan teater mandiri adalah karya pimpinannya sendiri yaitu