5 Pemanfaatan IPTEK. Meliputi bidang fokus, klasifikasi IPTEK, sumber hasil IPTEK, dan manfaatnya. Edisi 04 / Agustus 2015 - 25 - prestasi ISSN 2407-5817. Piagam Penghargaan IPTEK Anugerah
Sepertiyang dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat Thoha 130. Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang.
UmatMuslim selalu tampil sebagai penemu dalam berbagai bidang di dunia kedokteran modern. Dalam bidang anestesi, kontribusi umat Islam sungguh sangat besar. Pengaruhnya terhadap dunia Barat juga tak dapat dibantah. Hal itu dapat dilihat dari penemuan kedokteran Barat di dunia modern yang terinspirasi oleh karya-karya dokter Muslim.
Astronomi( bahasa Yunani: ἀστρονομία, translit. astronomía, [1] dari ástron 'bintang' dan nómos 'hukum'), juga disebut ilmu bintang atau ilmu falak, [2] adalah ilmu alam yang mempelajari benda langit dan fenomena alam yang terjadi di luar Bumi, termasuk fenomena di atmosfer atas Bumi yang berasal dari luar angkasa seperti meteor
PendidikanPancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Kelas 12 Bab 3 membahas dua pembelajaran. Pembelajaran Pertama membahas tentang Pengaruh Kemajuan Iptek Terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pembelajaran Kedua membahas tentang Sikap Selektif dalam Menghadapi Berbagai Pengaruh Kemajuan Iptek.
namunjuga termasuk bidang IPTEK dan pendidikan tinggi (Maemunah, 2018). Pengembangan IPTEK tidak dapat terlepas dari situasi yang melingkupinya, hal ini berarti bahwa IPTEK selalu berkembang dalam suatu ruang budaya. Pada gilirannya, perkembangan IPTEK akan bersentuhan dengan nilai-nilai ideologi bangsa, yang
Walaubegitu, kontribusi para astronom terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya fisika, selalu menarik perhatian komunitas sains maupun publik. menjadi ilmuwan pertama yang mendapatkan Nobel Fisika untuk penemuan di bidang astronomi. Walaupun beliau harus membagi hadiahnya bersama Carl David Anderson
PentingnyaPancasila sebagai dasar pengembangan ilmu dapat ditelusuri ke dalam hal-hal sebagai berikut; Pertama, pluralitas nilai yang berkembang dalam kehidupan bangsa Indonesia dewasa ini seiring dengan kemajuan iptek menimbulkan perubahan dalam cara pandang manusia tentang kehidupan. Hal ini membutuhkan renungan dan refleksi yang
DampakKemajuan IPTEK pada Kehidupan Generasi Muda di Bidang Pendidikan dan Sosial Pengertian IPTEK. Nana Syaodih S. (1997: 67) menyatakan bahwa sebenarnya sejak dahulu teknologi sudah ada atau manusia sudah menggunakan teknologi. terlalu sering manusia terhenyak oleh disilusi dari dampak negatif iptek terhadap kehidupan umat manusia
Penemuanilmuwan Volta terhadap gas yang dikeluarkan di rawa-rawa terjadi pada tahun 1770, beberapa dekade kemudian, Avogadro mengidentifikasikan tentang gas metana. Setelah tahun 1875 dipastikan bahwa biogas merupakan produk dari proses anaerobik digestion.
1 Di era globalisasi ini, kita harus bisa mengenal dan memahami berbagai perkembangan iptek, namun di sisi lain masih banyak orang yang kurang memahami perkembangan iptek. Secara jangka panjang perkembangan iptek memberikan arti yang sangat positif, namun di sisi lain tidak sedikit pula yang membawa dampak negatif. Kita
AdellaOkta menerbitkan E-Modul pemikiran-pemikiran yang melandasi peristiwa penting di Eropa antara lain Renaissance, Merkantilisme, Reformasi Gereja, Aufklarung, Revolusi Industri dan pengaruhnya bagi kehidupan bangsa Indonesia serta bangsa lain di dunia pada masa kini pada 2021-11-10. Bacalah versi online E-Modul pemikiran-pemikiran yang
Guangzhoudan seperti apa dampaknya bagi kota Surabaya. Penelitian ini menggunakan konsep sister city dan model efektivitas rezim Arild Underdal untuk menjawab rumusan masalah penelitian. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara dan studi pustaka. Hasil temuan menunjukkan bahwa
IlmuwanItali besar ini mungkin lebih bertanggung jawab terhadap perkembangan metode ilmiah dari siapa pun juga. Galileo lahir di Pisa, tahun 1564. Penemuan Galileo yang paling masyhur adalah di bidang astronomi. Teori perbintangan di awal tahun 1600-an berada dalam situasi yang tak menentu. Penemuan teleskop dan serentetan penemuan ini
Begitujuga dengan ilmu alamiah dasar. Tujuan ilmu alamiah dasar adalah: 1. Memperkenalkan konsep-konsep dasar ilmu pengetahuan alam. 2. Memberikan wawasan pengetahuan, pengertian, dan apresiasi terhadap objek dan cara pemikiran serta cara-cara pendekatan dalam IPA dan teknologi. 3.
888lal. Mahasiswa/Alumni Universitas Pelita Harapan07 Februari 2022 0654Hallo Sessy S, Teleskop merupakan alat yang berfungsi untuk mempermudah dan mempertajam kemampuan pengamatan tentang bentuk-bentuk benda langit maupun fase-fase yang dialaminya dari jarak jauh. Pada mulanya, seorang ilmuwan bernama Galileo menggunakan teleskop untuk mengamati pergerakan benda-benda langit dan menyimpulkan adanya garis orbit benda-benda langit tersebut. Bahkan didapatkan fakta bahwa bumi juga bergerak mengelilingi matahari. Walaupun pada masa itu, penolakan atas penemuan Galileo ini terjadi, namun setelah pembuktian teori tersebut sudah dilakukan akhirnya dunia mengakui bahwa teori Galileo adalah benar. Jadi, membantu penemuan-penemuan baru terkait dasar-dasar ilmu fisika, dan tentu saja mendukung pengembangan teleskop yang lebih canggih seperti Hubble Space. semoga membantu.
Siapa yang suka banget liat bintang di langit? Kalau kita melihatnya dari rumah, sih, rasanya bintang kecil banget, ya. Cuma berbentuk setitik cahaya yang bersinar di langit malam aja. Padahal kalau kita menonton film bertemakan galaksi kayak Guardians of the Galaxy 2014, kita bisa melihat benda langit yang ada di luar angkasa tuh ukurannya nggak sekecil yang kita lihat dari bumi. Tapi elo tahu nggak, sih, kalau elo bisa melihat bintang di angkasa dengan lebih dekat? Ini maksudnya elo nggak perlu langsung terbang pake roket buat nyamperin bintangnya lho, ya! Gimana tuh caranya? Elo bisa menggunakan alat yang namanya teleskop. Yes, semenjak kehadiran teleskop yang ditemukan ratusan tahun yang lalu, orang-orang bisa melihat bintang dengan lebih jelas. Bahkan, nggak cuma bintang! Tapi elo juga bisa melihat planet-planet yang mengelilingi matahari di tata surya kita. Wah, kedengarannya seru banget nggak, sih? Supaya semakin seru lagi, gue mau ngajak elo buat mengenal teleskop mulai dari teleskop pertama di dunia, munculnya teleskop Hubble milik NASA, fungsi dan cara kerja teleskop, hingga dampak dari penemuan teleskop di perkembangan kehidupan kita sekarang. Biar nggak penasaran lagi, langsung aja baca artikelnya sampai habis, ya! Mengenal TeleskopBagian-Bagian TeleskopTeleskop Pertama di Dunia dan PenemunyaHadirnya Teleskop Hubble Milik NASAFungsi TeleskopCara Kerja TeleskopDampak Penemuan Teleskop dalam Kehidupan Kayaknya kita semua udah familiar ya sama yang namanya teleskop. Ada juga yang menyebutnya sebagai teropong bintang, karena memang digunakan buat melihat bintang-bintang yang ada di langit. Tapi, kalau dari pengertiannya sendiri, sebenarnya teleskop itu apa, sih? Melansir Britannica Encyclopedia, pengertian teleskop adalah sebuah alat atau perangkat yang digunakan untuk memperlihatkan gambar yang diperbesar dari objek dengan jarak yang sangat jauh. Teleskop juga menjadi alat investigasi yang paling penting nih dalam dunia astronomi. Ilustrasi Teleskop dok. Pixabay Bukan cuma digunakan untuk sekadar melihat’ aja, teleskop juga menyediakan sarana buat mengumpulkan dan menganalisis radiasi dari benda-benda langit, atau bahkan benda yang jaraknya lebih jauh lagi. Baca Juga Sistem Tata Surya dan Sistem Bintang Lainnya Bagian-Bagian Teleskop Setelah kenalan sama teleskop, sekarang saatnya kita membedah bagian-bagian dari si teleskop, nih. Sebenarnya, bagian-bagian teleskop ini berbeda tergantung dari jenisnya. Kalau elo mau tahu cara membuat teleskop sederhana, elo bakal membutuhkan bagian-bagian ini, lho. Apa aja, sih? Inilah bagian-bagian utama yang pasti selalu ada di semua jenis teleskop, yaitu Lensa Primer pada Teleskop Pembias Komponen utama yang wajib ada di teleskop yaitu lensa primer. Lensa ini biasanya digunakan untuk teleskop pembias. Ketika kita ngomongin teleskop pembias, maka cahaya yang masuk ke perangkat/teleskop bakal dibiaskan oleh si lensa. Semakin besar lensa primer yang digunakan, maka akan semakin banyak cahaya yang dapat dikumpulkan oleh teleskop. Dengan banyaknya cahaya yang bisa dikumpulkan, tentu akan lebih banyak juga objek yang bisa dilihat. Ilustrasi teleskop pembias dan teleskop pemantul. dok. Wikimedia Commons Cermin Primer pada Teleskop Pemantul Bagian teleskop yang kedua yaitu cermin primer yang digunakan untuk teleskop pemantul. Cermin primer ini memiliki peran yang sama sebagai lensa utama pada teropong pembias, yaitu sama-sama bertugas untuk mengumpulkan cahaya yang bisa membentuk sebuah objek. Tapi, pada teleskop pemantul, cahaya yang masuk bakal terkumpul ke dalam cermin cekung, yang kemudian dipantulkan ke mata lewat cermin datar melalui lensa okuler sampai bentuknya bisa dilihat oleh mata. Lensa Mata Berbeda dengan lensa primer, lensa mata ini merupakan bagian yang bertugas untuk memperbesar gambar. Karena adanya lensa mata, maka gambar yang ditangkap bisa terlihat dengan lebih jelas lagi. Mount Yang terakhir yaitu mount. Ini merupakan bagian teleskop yang penting banget, karena tanpa adanya mount, teleskop bakal sulit buat diam di tempat ataupun digerakkan. Jadi, kebayang nggak mount ini tugasnya untuk apa? Yup, bener banget! Mount merupakan bagian teleskop yang berfungsi buat menopang tabung dan membuatnya gampang buat diputar atau digerakkan ke kanan, kiri, atas, dan bawah. Selain itu, mount juga menjaga teleskop supaya diam di tempatnya. Baca Juga Rumus Teropong, Jenis & Cara Kerjanya Teleskop Pertama di Dunia dan Penemunya Gimana nih rasanya setelah tahu bagian-bagian teleskop? Jadi semakin penasaran nggak, sih, sama cerita bagaimana teleskop pertama kali ditemukan dan siapa penemunya?! Tenang … gue bakal ceritain ke elo, nih. Buat membahas teleskop pertama di dunia, kita harus mundur sekitar 400 tahun ke belakang, tepatnya ke tahun 1608. Menurut sejarahnya, dilansir dari orang pertama yang mengajukan ide untuk teleskop adalah Hans Lippershey yang kadang juga dilafalkan sebagai Lipperhey, seorang pembuat kacamata asal Belanda. Lippershey mengklaim perangkat yang bisa memperbesar objek tiga kali pada tahun 1608. Portrait Hans Lippershey Lipperhey penemu teleskop pertama di dunia. dok. Wikimedia Commons Teleskop milik Lippershey memiliki lensa okuler cekung yang sejajar dengan lensa objektif cembung. Lalu, gimana bisa Lippershey kepikiran buat membuat teleskop pada saat itu? Ada dua cerita yang berbeda tentang ini. Cerita pertama, Lippershey mendapatkan idenya setelah mengamati ada dua anak di tokonya sedang memegang dua lensa yang berbeda. Kemudian, lensa tersebut membuat baling-baling cuaca yang jauh menjadi tampak lebih dekat. Lalu, cerita yang lain mengatakan kalau Lippershey nggak mendapatkan idenya sendiri melainkan mencuri ide dan desain dari pembuat kacamata lain bernama Zacharias Janssen. Kebetulan Janssen dan Lippershey tinggal di kota yang sama, keduanya juga sama-sama bekerja di bidang optik kacamata. Tapi, karena nggak ada bukti kuat yang mengatakan kalau Lippershey mencuri ide orang lain buat mengembangkan teleskopnya. Karena itu, Lippershey yang kemudian mendapatkan gelar penemu teleskop, sedangkan Janssen diberikan gelar sebagai penemu mikroskop majemuk. Baca Juga Galileo Galilei, Bapak Ilmu Pengetahuan Modern yang Ditahan Gereja Katolik Roma Hadirnya Teleskop Hubble Milik NASA Setelah teleskop pertama ditemukan, kemudian hadirlah beberapa teleskop-teleskop lainnya. Salah satunya seperti teleskop Hubble milik National Aeronautics and Space Administration atau yang biasa kita kenal dengan sebutan NASA. Tapi, sebelum masuk ke teleskop Hubble, gue mau mengajak elo menelusuri sejarah teleskop sedikit semenjak teleskop pertama tahun 1608, ya. Satu tahun setelah teleskop pertama dibuat, Galileo Galilei yang mendengar kabar tersebut mulai mengembangkan teleskopnya sendiri pada tahun 1609. Ini menarik banget, lho! Karena si Galilei tuh nggak pernah melihat rancangan teleskop milik Lippershey selama mengembangkan teleskop buatannya. Ilustrasi Galileo Galilei dan teleskop-nya di Piazza San Marco, Italia. dok. Wikimedia Commons Apa sih yang membedakan teleskop milik Lippershey dan Galilei? Kalau sebelumnya teleskop Lippershey mampu memperbesar objek tiga kali, teleskop Galilei bisa memperbesar objek 20 kali! Wah, keren banget, kan? Ada fakta menarik juga tentang si Galilei ini. Sekarang kan kita tahu kalau teleskop bisa membantu kita melihat benda-benda di luar angkasa, ternyata … Galileilah yang menjadi orang pertama yang mengarahkan teleskop ke angkasa buat melihat objek-objek di langit pada tahun 1610. Dengan teleskopnya, dia mampu melihat gunung dan kawah di bulan, pita cahaya yang melengkung di langit, bintik-bintik di matahari, hingga cincin di planet Saturnus. Namun, ia menemukan kesulitan untuk melihat dengan jelas cincin Saturnus. Kesulitan ini kemudian mendorong adanya kemajuan bidang optik dalam meningkatkan pandangan para ilmuwan tentang planet, bintang, dan galaksi. Tapi sayang, atmosfer bumi menghalangi sebagian besar cahaya yang ditangkap teleskop. Buat mengatasi gangguan ini, para ilmuwan menempatkan teleskop yang lebih besar di atas pegunungan, karena tempat yang lebih tinggi memiliki atmosfer yang lebih tipis di sehingga memungkinkan teleskop menangkap gambar yang lebih jelas. Pengembangan teleskop berlanjut, nih. Tahun 1946, setelah Perang Dunia II usai, seorang astronom bernama Lyman Spitzer memberikan usul buat meluncurkan teleskop ruang angkasa. Tujuannya supaya bisa mengatasi keterbatasan observatorium berbasis darat. Tapi gagasan tersebut nggak langsung disetujui, lho. Butuh sekitar beberapa dekade untuk akhirnya gagasan ini dievaluasi. Selanjutnya, National Academy of Sciences mengajukan proposal ke NASA, sebagai satu-satunya lembaga yang mampu membuat teleskop luar angkasa menjadi nyata pada saat itu. Bisa dibilang, NASA sudah punya ide untuk membuat teleskop luar angkasa, tapi ide tersebut belum benar-benar final. Akhirnya pada tahun 1971, George Low, pejabat administrator NASA pada saat itu, memberikan lampu hijau pada Large Space Telescope Science Steering Group untuk membuat teleskop luar angkasa yang dinamakan Large Space Telescope. Pembuatannya tentu nggak mudah dan nggak murah. Jadi, NASA mengalami penolakan dana di tahun 1975. Satu penolakan nggak bisa membuat mereka menyerah! NASA terus berusaha hingga mendapatkan persetujuan dari European Space Agency Badan Antariksa Eropa buat menanggung biayanya bareng-bareng. Setelah itu, Kongres Amerika Serikat akhirnya memberikan dana kepada NASA untuk pembuatan Large Space Telescope pada tahun 1977. Teleskop Hubble NASA ketika hendak diluncurkan tahun 1990. dok. NASA Dana udah didapatkan, ide udah oke, sekarang saatnya pembangunan dimulai. Pada awalnya, NASA berencana untuk meluncurkan teleskopnya pada tahun 1983. Tapi ternyata mereka menghadapi beberapa kali penundaan produksi yang bikin waktu peluncurannya ngaret sampai tahun 1986. Large Space Telescope atau Teleskop Luar Angkasa Besar kemudian diganti namanya menjadi Hubble. Ini dilakukan untuk menghormati Edwin Hubble, seorang astronom Amerika yang menetapkan alam semesta itu luas banget, bahkan sampai melampaui batas-batas galaksi kita yaitu galaksi Bima Sakti. Dengan begitu, lahirlah Teleskop Hubble milik NASA. Rencana peluncuran Hubble udah hampir sesuai sama estimasi waktu yang ditentukan, nih, tapi sayang … pada tanggal 28 Januari 1986, pesawat ulang alik Challenger meledak satu menit setelah lepas landas. Kecelakaan tersebut menewaskan tujuh astronot di dalamnya. Butuh sekitar 2,5 tahun sebelum NASA merencanakan peluncuran Hubble lagi. Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba juga. Pada 24 April 1990, Teleskop Hubble akhirnya diluncurkan di atas pesawat ulang alik Discovery dan diluncurkan ke orbit Bumi yang rendah, sekitar 340 mil 545 kilometer di atas planet kita. Teleskop Hubble milik NASA di orbitnya. dok. NASA Pengembangan dan peluncuran Hubble diperkirakan menghabiskan biaya 1,5 miliar USD, atau sekitar Rp21 triliun, lho! Ini pun bukan biaya final, ya. Karena akan ada biaya tambahan berkelanjutan baik yang terduga maupun yang nggak terduga. Baca Juga Galaksi Kita Bima Sakti Nggak Sendiri, Ini Bukti Menurut Edwin Hubble Fungsi Teleskop Melihat biaya pengembangan dan peluncuran Teleskop Hubble yang sangat besar itu, penasaran nggak sih memangnya apa fungsi teleskop ini? Teleskop punya tiga fungsi dasar, nih, yaitu light gathering mengumpulkan cahaya, resolving menyelesaikan, dan magnifying memperbesar. Seperti apa maksudnya? Tenang, gue bakal coba jelasin satu-satu supaya elo semakin kebayang, ya. Light Gathering Mengumpulkan Cahaya Fungsi pertama yaitu buat mengumpulkan cahaya. Ini kayaknya fungsi yang paling penting juga, karena kalau sebuah teleskop nggak bisa mengumpulkan cahaya, gimana mata bisa melihat bentuk benda yang ingin dilihat lewat teleskopnya? Nah maka dari itu, yang dimaksud mengumpulkan cahaya ini yaitu seberapa banyak cahaya yang bisa dikumpulkan oleh lensa objektif cermin utama dalam reflektor dan lensa dalam refraktor dari objek benda yang jaraknya sangat jauh. Semakin besar lensa objektif yang dimiliki teleskop, maka akan semakin banyak pula cahaya yang bisa dikumpulkan. Dengan begitu, bentuk gambar juga akan terlihat lebih jelas lagi. Contohnya tuh gini, misal ada teleskop 1 dengan lensa objektif berdiameter 2 inci dan teleskop 2 dengan lensa objektif berdiameter 4 inci. Kedua teleskop ini sama-sama menggunakan lensa okuler yang bisa memberikan pembesaran sampai 100 kali. Kira-kira, teleskop mana yang akan memberikan gambar yang lebih jelas? Jawabannya tentu aja teleskop 2 dengan lensa objektif berdiameter 4 inci. Karena teleskop tersebut bisa mengumpulkan cahaya lebih banyak, sehingga kualitas bentuk objek terlihat lebih smooth atau nggak se-buram yang pertama. Resolving Menyelesaikan Fungsi teleskop yang kedua yaitu resolving atau menyelesaikan. Maksudnya apa, ya? Jadi, setelah cahaya berhasil dikumpulkan oleh lensa objektif, teleskop kemudian bakal mulai membentuk detail dari objek yang ingin dilihat tersebut. Simpelnya, resolving bermaksud untuk menyelesaikan bentuk objek melalui cahaya yang udah dikumpulkan. Ini juga yang bikin elo bisa melihat bentuk benda langit sesuai sama bentuk aslinya. Magnifying Memperbesar Fungsi yang ketiga yaitu untuk memperbesar objek/benda. Fungsi yang ini sifatnya tuh wajib. Karena memang teleskop diciptakan buat bisa melihat objek yang jaraknya jauh, makanya teleskop punya fungsi untuk memperbesar objek tersebut. Terus gimana caranya teleskop mengumpulkan cahaya sampai akhirnya bisa membentuk objek yang bisa kita lihat? Ini bakal gue bahas di cara kerja teleskop di bawah ini! Baca Juga Perjalanan Stephen Hawking Mengungkap Misteri Lubang Hitam Cara Kerja Teleskop Setelah kita tahu fungsi teleskop, sekarang saatnya kita bahas gimana, sih, cara kerja teleskop itu? Kalau yang gue tahu, caranya ya kita tinggal mengedipkan satu mata, kemudian mengarahkan teleskopnya ke langit, terus kelihatan benda langit yang mau kita lihat, deh! Tapi, memangnya sesimpel itu? Tentu aja nggak. Dilansir dari NASA, cara kerja teleskop yaitu dengan memfokuskan cahaya menggunakan potongan-potongan kaca bening yang melengkung, yang kita sebut lensa. Namun, kebanyakan teleskop saat ini menggunakan cermin lengkung untuk mengumpulkan cahaya dari langit malam. Cermin atau lensa dalam teleskop yang kemudian bertugas untuk memusatkan cahaya. Nah, cahaya itulah yang kita lihat pas kita lagi memandang benda langit menggunakan teleskop. Sekarang coba kita break down cara kerjanya pelan-pelan, ya. Pertama, teleskop yang dibuat dengan lensa disebut teleskop pembias. Lensa dalam teleskop bias ini sama dengan lensa yang ada di kacamata, yaitu sama-sama bisa membelokkan cahaya yang melewatinya. Tapi, ada bedanya nih lensa di teleskop sama di kacamata. Kalau di kacamata, lensa membantu bikin objek yang elo lihat supaya nggak kelihatan buram lagi. Kalau di teleskop, lensa ini yang bikin elo bisa melihat objek yang jauh dengan lebih dekat. Cara kerja teleskop pembias yang menggunakan lensa untuk membuat gambar lebih besar dan lebih terlihat. dok. NASA Seseorang dengan penglihatan yang buruk atau orang yang minus-nya gede, dia bakal butuh lensa yang tebal di kacamata mereka. Kayak gue, nih, mata gue minus lima dan kacamata gue sekarang udah terasa tebal banget dibandingkan dulu pas gue cuma minus dua. Ini juga berlaku di teleskop. Semakin besar dan semakin tebal lensa yang digunakan, maka akan semakin jauh juga jarak pandang yang bisa ditangkap teleskop. Jadi, elo bisa melihat benda langit yang jaraknya lebih jauh lagi dari Bumi. Tapi, sayangnya lensa yang tebal itu punya bobot yang berat. Lensa berat ini susah dibuat dan juga susah dipegang. Selain itu, karena lensanya semakin tebal, kaca juga akan menghentikan lebih banyak cahaya yang melewatinya. Nah, karena cahaya bisa masuk ke teleskop dengan melewati lensa, maka permukaan lensa harus sehalus mungkin, lho. Setiap cacat yang ada pada lensa akan mengubah bentuk gambar akhirnya yang sampai ke mata. Contohnya seperti melihat jalan dengan keadaan jendela yang kotor, maka objek di luar jendela nggak akan bisa elo lihat secara sempurna. Sekarang masuk ke teleskop yang menggunakan cermin, yaitu teleskop pemantul. Nggak seperti lensa yang semakin tebal semakin jelas, teleskop pemantul bisa mendapatkan hasil yang bagus walaupun menggunakan cermin yang tipis banget. Karena cara kerja teleskop pemantul yaitu cahaya terkonsentrasi dengan memantul dari cermin, jadi cermin nggak perlu dibuat tebal, hanya perlu dibuat dengan bentuk lengkung yang tepat. Ini juga alasan mengapa lebih banyak teleskop yang menggunakan cermin saat ini, karena cara membuatnya juga nggak begitu sulit. Apalagi cermin juga lebih mudah dibersihkan dan dipoles daripada lensa. Cara kerja teleskop pemantul yang menggunakan cermin untuk membantu melihat objek yang jauh. dok. NASA Tapi, cara kerja teleskop pemantul yang menggunakan cermin ini sebenarnya membalik gambar. Kalau elo pernah coba berkaca di sendok, elo pasti melihat bayangan diri elo terbalik, kan? Nah, itu juga yang terjadi sama cermin di teleskop pemantul. Untungnya teknologi udah semakin canggih. Berkat penemuan ilmuwan-ilmuwan hebat, masalah ini bisa diatasi dengan menggunakan cermin lain untuk membalik gambar menjadi normal. Jadilah kita bisa melihat benda-benda luar angkasa yang jauh dengan mudah dan jelas hari ini. Eh, ngomong-ngomong, elo tahu nggak sih kalau kita juga bisa menikmati pemandangan luar angkasa dengan teleskop yang ada di Indonesia? Yup, Indonesia punya observatorium dan planetarium yang bisa elo kunjungi kalau tertarik dengan dunia astronomi. Salah satunya yaitu Observatorium Bosscha yang berlokasi di Bandung, Jawa Barat. Foto dari udara Gedung Teleskop Zeiss. dok. Observatorium ini udah ada sejak tahun 1923 dan merupakan observatorium astronomi modern pertama di Asia Tenggara, lho! Di sini, elo bisa menemukan teleskop berdiameter 60 cm yang beroperasi sejak tahun 1925, yaitu sejak zaman Belanda. Selain itu, ada juga Observatorium Taman Ismail Marzuki TIM yang berlokasi di Jakarta. Berdiri sejak tahun 1964, observatorium ini merupakan hasil dari gagasan milik presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno. Hingga hari ini, Observatorium TIM masih aktif sebagai planetarium atau wisata edukasi di bidang astronomi. Menariknya, pada tahun 2019 kemarin, ada ribuan warga Jakarta yang datang ke Planetarium TIM buat melihat proses terjadinya gerhana matahari yang melintasi 26 kota di Indonesia. Mereka menyiapkan 10 teleskop dan sekitar kacamata khusus buat para pengunjung supaya bisa melihat gerhana matahari cincin dengan aman. Seru banget, kan? Teleskop yang sering kita temukan untuk melihat benda-benda langit bisa juga disebut sebagai teleskop bintang atau teropong bintang. Nah, teleskop bintang ini masuk menjadi bagian dari alat optik dalam ilmu fisika. Elo bisa cari tahu lebih dalam mengenai teropong bintang lewat video materi belajar di bawah ini, ya! Baca Juga Manfaat Sinar Matahari Bagi Kehidupan di Bumi Dampak Penemuan Teleskop dalam Kehidupan Ternyata penemuan teleskop ini berdampak juga ya buat kehidupan. Contohnya kayak yang udah gue mention di atas, waktu warga Jakarta berbondong-bondong datang ke planetarium buat ngeliat proses terjadinya gerhana matahari. Tapi, gue yakin dampak penemuan teleskop lebih besar lagi. Terutama dalam bidang astronomi dan ilmu pengetahuan! Melansir NASA, penemuan teleskop telah membuka mata kita terhadap alam semesta. Karena dengan kehadiran teleskop, para ilmuwan menemukan fakta bahwa Bumi bukanlah pusat dari alam semesta, seperti yang diyakini sebelumnya. Terus, penemuan teleskop juga memberikan pengetahuan kalau ada gunung dan kawah di Bulan. Bisa dibilang, teleskop merupakan kunci yang membuka ilmu mengenai geografi dan cuaca di planet-planet yang ada di sistem tata surya kita. Kalau ada planet dan asteroid baru, itu juga ditemukannya dengan teleskop, lho! Oh iya, nggak cuma bisa menemukan planet dan asteroid aja, teleskop juga membantu membuat pengukuran valid pertama dari kecepatan cahaya. Terus, teleskop memberikan kita kesempatan untuk bisa memahami gravitasi dan hukum fundamental lainnya, serta membantu kita memahami cahaya yang memancar dari matahari dan bintang-bintang lainnya. *** Wah, ternyata banyak banget, ya, dampak penemuan teleskop terhadap perkembangan IPTEK di bidang astronomi. Kalau menurut gue, dampak yang paling gue rasakan setelah adanya penemuan teleskop yaitu fakta bahwa alam semesta kita itu luas banget, sesuai sama penemuan dari teleskop milik Galileo. Kalau dilihat dari kehidupan sehari-hari, dampak penemuan teleskop membantu kita buat lebih mengenal alam semesta dan galaksi tempat Bumi kita berada sekarang. Ilmu astronomi pun menjadi sesuatu yang selalu menarik buat dikulik. Sampai-sampai, elo bisa nemuin ratusan film bertemakan galaksi seperti Star Wars Episode IV – A New Hope 1977, Star Trek 2009, Guardians of the Galaxy 2014, atau bahkan Dune 2021. Nah, kalau dari pandangan Sobat Zenius sendiri, apa sih dampak penemuan teleskop yang paling berpengaruh versi elo? Coba bagikan opini elo di kolom komentar, yuk!
pixabay/JayMantri Teleskop pertama, siapa penemunya? - Mempelajari bidang astronomi menjadi salah satu hal yang menarik. Bagaimana tidak? Melalui cabang ilmu satu ini kita bisa mengenal bintang, planet, dan benda langit lainnya. Astronomi adalah salah satu cabang ilmu sains yang paling tua. Konon sejak zaman batu, manusia sudah gemar mengamati benda langit. Namun, pada saat itu manusia hanya mengandalkan mata tanpa ada bantuan alat apapun. Baca Juga Ada Banyak Rasi Bintang di Langit, Bagaimana Cara Menemukannya, ya? AkuBacaAkuTahu Karena berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, barulah muncul alat bantu astronomi yang beragam. Salah satu yang paling penting untuk membantu segala kegiatan dalam bidang astronomi adalah teleskop. Teleskop memiliki jenis yang bermacam-macam dengan fungsi yang tentunya juga berbeda. Jika dibandingkan dengan teleskop pertama, teleskop yang ada sekarang sudah jauh lebih canggih. Apakah teman-teman penasaran tentang teleskop pertama yang ditemukan sehingga bisa membantu penelitian bidang astronomi seperti saat ini? Yuk, cari tahu tentang teleskop pertama! Baca Juga Berapa Jumlah dari Perkalian Semua Faktor 12 dan 15? Soal dan Pembahasan Gemar Matematika di TVRI, 8 Mei 2020 Artikel ini merupakan bagian dari Parapuan Parapuan adalah ruang aktualisasi diri perempuan untuk mencapai mimpinya. PROMOTED CONTENT Video Pilihan
Observatoirum Bosscha, Lembang Foto Dok. zaman dahulu, astronomi telah menjadi bagian dari berbagai kebudayaan yang ada di Indonesia. Ilmu falak itu menjadi cara para leluhur Indonesia menjelajahi lautan, menentukan siklus tumbuh padi, dan membangun kuil-kuil makalah ilmiah yang telah dipublikasikan di jurnal Nature Astronomy pada 3 Desember 2018, teknologi astronomi modern masuk ke Indonesia pada tahun 1920-an, dimulai dengan pembangunan Observatorium Bosscha di Lembang, makalah yang ditulis oleh sekelompok peneliti di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional LAPAN dan peneliti di Departemen Astronomi Institut Teknologi Bandung ITB itu, dijelaskan bahwa teleskop utama Bosscha adalah refraktor ganda Carl Zeiss dengan diameter 60 sentimeter yang dipakai untuk pengamatan visual. Pada tahun 1960-an teleskop Schmidt, teleskop astrofotografi katadioptrik yang dirancang untuk memberikan pandangan luas dengan penyimpangan terbatas, juga aktif beroperasi di Observatorium Bosscha. Teleskop tersebut merupakan donasi dari UNESCO untuk mempelajari struktur Bosscha sendiri telah diresmikan sejak 1928 dan masih beroperasi sampai sekarang. Di observatorium itulah komunitas astronomi modern Indonesia pertama kali Bosscha Foto Wikimedia CommonsSekarang selain Bosscha yang telah menjadi bagian dari ITB, ada juga Lembaga Penerbangan dan Antariksa Negara LAPAN, Departemen Sains Atmosfer dan Keplanetan ITERA Lampung, dan beberapa lembaga lainnya yang juga turut mengembangkan komunitas-komunitas astronomi di jumlah fasilitas astronomi modern di Indonesia masih sangat kurang. Situasi bertambah buruk dengan adanya gangguan polusi cahaya Kota Bandung terhadap proses pengamatan astronomi di Observatorium untungnya, berkat dorongan berbagai pihak, keluarlah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan. UU tersebut diikuti dengan Keputusan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2017 yang mengatakan bahwa Indonesia harus memiliki observatorium itu perlahan-lahan mulai terwujud. Sebuah observatorium terbesar se-Asia Tenggara sedang dalam proses pembangunan di Nusa Tenggara Timur NTT.Teleskop untuk umum Planetarium Jakarta. Foto Zahrina Yustisia Noorputeri/kumparanBernama Observatorium Nasional Timau, observatorium itu merupakan kolaborasi antara para ahli dari berbagai institusi di Indonesia, seperti LAPAN, ITB, serta Universitas Nusa Cendana UNDANA, yang didukung oleh pemerintah provinsi NTT."Nama diambil dari nama lokasinya. Kemudian proyeknya sudah diawali dari akhir 2015. Nah tapi memang proyek dirintis oleh teman-teman astronom di ITB sejak lama," ujar Rhorom Priyatikanto, peneliti di Pusat Sains Antariksa LAPAN kepada kumparanSAINS, Selasa 4/12. Rhorom turut menulis makalah yang dipublikasikan di Nature menurut hasil studi Rhorom dan kawan-kawan, pembangunan teleskop luar angkasa modern di Indonesia sebenarnya telah didiskusikan sejak 1984. Namun karena kurangnya dukungan, pembangunan baru bisa terealisasi Observatorium Nasional Timau Foto LAPANNTT menjadi pilihan karena berdasarkan riset-riset meteorologi, provinsi itu merupakan pilihan terbaik bagi lokasi observatorium nasional."Berdasarkan studi yang dilakukan tim dari ITB, secara statistik data selama 15 tahun dari 1996 sampai 2010, daerah NTT atau daerah tenggara Indonesia secara umum itu iklimnya agak terpengaruh oleh benua Australia yang cukup kering," kata Rhorom. "Maka dari itu sekitar 70 persen malam hari dalam satu tahun itu cerah. Kira-kira ada 200-an lebih malam hari.”Rhorom menjelaskan bahwa proses konstruksi observatorium nasional di Timau tersebut direncanakan dimulai tahun ini hingga berakhir kira-kira pada akhir tahun 2019."Kondisi sekarang memang masih banyak kekurangan. Terutama akses menuju lokasi yang luar biasa sulit, jalan masih buruk apalagi dengan cuaca hujan saat ini. Komunikasi, listrik, dan sebagainya pun masih minim," tutur Rhorom."Sehingga nanti diwacanakan observatorium itu bisa beroperasi dengan jumlah SDM seminimal mungkin," imbuh observatorium di Kupang, NTT Foto Dok. LAPANObservatorium Nasional Timau direncanakan akan memiliki teleskop utama Teleskop Ritchey-Chrétien berdiameter 3,8 meter yang mirip dengan teleskop luar angkasa milik Kyoto University, samping itu, observatorium ini juga akan dilengkapi dengan teleskop 1,2 meter, dua teleskop survei 50 sentimeter kembar, dan sebuah teleskop 30 sentimeter untuk pengamatan Matahari. Lebih dari itu, nantinya juga akan ada beberapa teleskop yang dilengkapi dengan robot yang bisa membantu para peneliti melakukan pengamatan tanpa perlu pergi ke lokasi observatorium.
apa dampak penemuan teleskop terhadap perkembangan iptek di bidang astronomi